“Kalau semua anak muda ingin bekerja di kota, siapa yang akan menanam makanan untuk kita di masa depan?”
Pernahkah Anda membayangkan satu hari tanpa nasi, sayuran, buah, telur, atau kopi? Hampir semua makanan yang kita nikmati setiap hari berasal dari tangan seorang petani. Namun ironisnya, profesi yang begitu penting justru semakin sedikit diminati oleh generasi muda.
Banyak anak muda bercita-cita menjadi dokter, guru, programmer, polisi, atau pengusaha. Itu tentu bukan hal yang salah. Namun, sangat jarang ada yang dengan bangga berkata, “Saya ingin menjadi petani.”
Mengapa bisa begitu?
Selama bertahun-tahun, pertanian sering dipandang sebagai pekerjaan yang melelahkan, kotor, penghasilannya kecil, dan tidak memiliki masa depan. Akibatnya, banyak anak muda memilih meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan di kota. Padahal, tanpa mereka sadari, masa depan pertanian Indonesia justru sangat membutuhkan kehadiran generasi muda.
Ketika Orang Tua Bertani, Anak-Anaknya Memilih Pergi
Fenomena ini sangat mudah kita temui.
Di banyak desa, sawah masih dikelola oleh ayah, ibu, atau bahkan kakek dan nenek. Sementara anak-anak mereka bekerja di pabrik, kantor, toko, atau merantau ke kota.
Bukan karena mereka tidak mencintai pertanian. Namun, banyak yang merasa bahwa bertani tidak cukup menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Tidak sedikit orang tua yang bahkan berkata kepada anaknya,
“Belajarlah yang rajin supaya nanti tidak jadi petani seperti Bapak.”
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun tanpa disadari, kalimat tersebut perlahan membentuk anggapan bahwa menjadi petani adalah pilihan terakhir.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Indonesia Sedang Menghadapi Tantangan Besar

Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Tanahnya subur, iklimnya mendukung, dan hampir semua jenis tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Namun ada satu tantangan besar yang mulai terlihat, yaitu semakin sedikit anak muda yang memilih menjadi petani.
Data Sensus Pertanian 2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 28,4 juta rumah tangga usaha pertanian. Akan tetapi, jumlah petani muda masih tergolong rendah. Petani berusia 19–39 tahun tercatat sekitar 6,18 juta orang, atau hanya sekitar 21,93% dari seluruh petani di Indonesia. Artinya, hampir 8 dari 10 petani Indonesia berusia di atas 39 tahun.
Jika kondisi ini terus berlangsung, muncul pertanyaan besar:
Siapa yang akan memproduksi pangan Indonesia 20 atau 30 tahun lagi?
Padahal Pertanian Sudah Banyak Berubah
Kalau mendengar kata petani, apa yang terbayang?
Mungkin seseorang yang memakai caping, memegang cangkul, dan bekerja di sawah sejak pagi hingga sore.
Gambaran itu memang masih ada. Tetapi pertanian saat ini sudah berkembang sangat pesat.
Sekarang banyak petani yang mengendalikan pompa air melalui telepon genggam. Ada yang menggunakan drone untuk menyemprot tanaman. Ada pula yang memasang sensor di lahan untuk mengetahui kelembapan tanah dan kebutuhan air tanaman.
Bahkan, hasil panen kini bisa dipasarkan melalui media sosial, marketplace, atau toko online tanpa harus menunggu tengkulak datang.
Artinya, menjadi petani saat ini bukan hanya soal menanam. Petani juga harus memahami teknologi, pemasaran digital, manajemen usaha, hingga cara membaca peluang pasar.
Anak Muda Justru Punya Kelebihan
Di sinilah generasi muda memiliki keunggulan.
Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, dan teknologi digital. Mereka terbiasa belajar dari YouTube, mengikuti tren di TikTok, memasarkan produk melalui Instagram, hingga berjualan secara online.
Kemampuan ini menjadi modal yang sangat besar dalam dunia pertanian modern.
Bayangkan jika seorang petani muda mampu menanam melon premium, kemudian mempromosikannya melalui media sosial. Ia tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga membangun merek, mengedukasi masyarakat, bahkan menarik wisatawan untuk datang ke kebunnya.
Inilah wajah baru pertanian Indonesia.
Bertani Bisa Menjadi Bisnis yang Menjanjikan
Masih banyak orang yang menganggap bertani identik dengan kemiskinan.
Padahal, yang menentukan keuntungan bukan hanya jenis pekerjaannya, tetapi bagaimana usaha tersebut dikelola.
Hari ini banyak anak muda yang berhasil membangun usaha dari sektor pertanian. Ada yang mengembangkan hidroponik di halaman rumah, membudidayakan melon premium di greenhouse, memproduksi pupuk organik, hingga mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tinggi.
Mereka tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga menjual pengalaman, kualitas, dan inovasi.
Karena itulah, pertanian tidak lagi sekadar menghasilkan bahan pangan. Pertanian telah berkembang menjadi bisnis yang memiliki peluang besar.
Pertanian Membutuhkan Ide-Ide Baru
Dunia saat ini sedang menghadapi perubahan iklim, berkurangnya lahan pertanian, serta meningkatnya kebutuhan pangan akibat pertumbuhan penduduk.
Semua tantangan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan cara lama.
Indonesia membutuhkan generasi muda yang mampu menghadirkan inovasi. Mulai dari pertanian organik, smart farming, penggunaan drone, Internet of Things (IoT), hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam mengelola lahan.
Semakin banyak anak muda yang terlibat, semakin cepat pula pertanian Indonesia berkembang.
Hijaunesia Percaya Masa Depan Pertanian Ada di Tangan Anak Muda
Sebagai lembaga pelatihan pertanian, Hijaunesia percaya bahwa anak muda bukan sekadar penerus, tetapi penggerak perubahan.
Melalui pelatihan, pendampingan, dan edukasi, Hijaunesia membantu generasi muda memahami bahwa pertanian bukan lagi pekerjaan yang identik dengan keterbatasan. Pertanian adalah sektor yang penuh peluang bagi mereka yang mau belajar, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi.
Kami ingin semakin banyak anak muda yang tidak hanya bangga menjadi petani, tetapi juga mampu menjadi pengusaha di bidang pertanian, menciptakan lapangan kerja, dan membawa produk lokal Indonesia bersaing di pasar dunia.
Mari Ubah Cara Pandang Kita
Selama ini kita sering mengajarkan anak-anak bahwa kesuksesan berarti bekerja di gedung bertingkat atau duduk di balik meja kantor.
Padahal, seseorang yang mampu menghasilkan pangan bagi jutaan orang juga adalah sosok yang luar biasa.
Menjadi petani bukan berarti tertinggal. Justru di era modern, petani adalah profesi yang sangat dibutuhkan untuk menjaga ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Anak muda tidak perlu malu menjadi petani. Sebaliknya, mereka patut bangga karena ikut menjaga kehidupan banyak orang.
Masa depan pertanian Indonesia tidak hanya bergantung pada luas lahan atau kecanggihan teknologi. Yang paling menentukan adalah siapa yang bersedia mengelolanya.
Jika semakin banyak generasi muda berani terjun ke dunia pertanian, Indonesia tidak hanya akan memiliki petani yang lebih produktif, tetapi juga lebih inovatif, lebih adaptif terhadap teknologi, dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Bersama Hijaunesia, mari kita buktikan bahwa bertani bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah profesi yang membangun bangsa. Karena di balik setiap benih yang ditanam hari ini, ada harapan besar untuk Indonesia di masa depan.
