ESG Bukan Lagi Pilihan. Mengapa Standar Dunia Kini Menuntut Bisnis yang Berkelanjutan?

“Pernahkah Anda berpikir, mengapa sekarang banyak perusahaan mulai berbicara tentang ESG? Apakah hanya karena mengikuti tren? Atau karena ingin terlihat peduli terhadap lingkungan?”

Kalau beberapa tahun lalu jawabannya mungkin iya.

Namun hari ini, kondisinya sudah berbeda.

Di banyak negara, terutama negara-negara maju, ESG bukan lagi sekadar nilai tambah. ESG mulai menjadi standar yang menentukan apakah sebuah perusahaan layak dipercaya, mendapatkan investasi, bahkan dapat menjual produknya ke pasar internasional. 

Dunia Tidak Lagi Hanya Membeli Produk

Dulu, pembeli hanya bertanya tiga hal.

“Berapa harganya?”

“Bagaimana kualitasnya?” 

“Kapan barangnya dikirim?”

Hari ini muncul pertanyaan baru.

“Apakah produk ini dibuat tanpa merusak lingkungan?”

“Apakah pekerjanya diperlakukan dengan baik?”

“Apakah perusahaan menjalankan bisnisnya secara jujur dan transparan?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini kini menjadi bagian dari proses bisnis di banyak negara.

Artinya, dunia tidak lagi hanya membeli produk.

Dunia juga ingin tahu cerita di balik produk tersebut.

ESG Mulai Menjadi “Tiket Masuk” ke Pasar Global

Salah satu contohnya datang dari Uni Eropa.

Melalui Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD), banyak perusahaan diwajibkan melaporkan kinerja keberlanjutannya secara lebih terbuka. Selain itu, Uni Eropa juga mulai menerapkan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), yaitu 

mekanisme yang mengenakan biaya karbon pada produk impor tertentu yang memiliki emisi tinggi. 

Sederhananya begini.

Kalau dulu perusahaan cukup menjual baja, aluminium, atau semen dengan harga murah.

Sekarang pembeli juga ingin tahu berapa besar emisi karbon yang dihasilkan saat produk itu dibuat.

Kalau datanya tidak ada, atau emisinya terlalu tinggi, produk tersebut bisa menjadi lebih mahal dan kurang kompetitif di pasar Eropa. 

Investor Dunia Pun Mulai Berubah

Perubahan ini juga terlihat dari dunia investasi.

Menurut Global Sustainable Investment Alliance (GSIA), investasi berkelanjutan kini telah berkembang dari sekadar tren menjadi bagian penting dalam sistem investasi global. Investor semakin mempertimbangkan bagaimana perusahaan mengelola lingkungan, aspek sosial, dan tata kelola sebelum memutuskan menanamkan modal. 

Mengapa?

Karena investor mulai sadar bahwa perusahaan yang mengabaikan ESG memiliki risiko yang lebih besar.

Risiko terkena sanksi.

Risiko kehilangan pelanggan.

Risiko ditinggalkan mitra bisnis.

Dan pada akhirnya, risiko kehilangan keuntungan.

Indonesia Tidak Bisa Menghindari Perubahan Ini

Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor komoditas terbesar di dunia.

Mulai dari kopi, kakao, kelapa sawit, karet, hasil perikanan, hingga berbagai produk industri.

Artinya, perubahan standar di pasar global juga akan berdampak pada Indonesia.

Ketika pembeli luar negeri mulai meminta data emisi karbon, asal-usul bahan baku, hingga praktik keberlanjutan, maka perusahaan Indonesia juga perlu bersiap memenuhi permintaan tersebut agar tetap mampu bersaing. 

Yang Jarang Kita Sadari…

Banyak orang berpikir ESG hanya urusan perusahaan besar.

Padahal dampaknya bisa sampai ke petani, UMKM, koperasi, bahkan usaha kecil.

Bayangkan sebuah perusahaan kopi di Indonesia ingin mengekspor produknya ke Eropa.

Pembeli tidak hanya meminta sampel kopi.

Mereka juga bisa meminta informasi tentang asal biji kopi, cara budidayanya, penggunaan pupuk, hingga bagaimana perusahaan memperlakukan para petaninya.

Artinya, ketika perusahaan besar diminta menerapkan ESG, seluruh rantai pasoknya juga perlahan ikut berubah.

ESG Bukan Lagi Tentang Mengikuti Tren

Dunia sedang berubah.

Yang berubah bukan hanya teknologi.

Bukan hanya cara berjualan.

Tetapi juga cara dunia menilai sebuah bisnis.

Hari ini, perusahaan tidak lagi cukup berkata,

“Produk kami berkualitas.”

Mereka juga perlu mampu membuktikan,

“Produk kami diproduksi dengan cara yang bertanggung jawab.”

Karena itulah yang mulai dicari oleh investor, pelanggan, dan mitra bisnis di seluruh dunia.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top