“Pernahkah Anda memasak nasi terlalu banyak? Atau membeli makanan karena sedang lapar, tetapi akhirnya tidak habis dan terpaksa dibuang? Rasanya biasa saja. Hampir semua dari kita pernah melakukannya. Namun pernahkah kita berpikir, berapa banyak makanan yang sebenarnya terbuang setiap hari?”
Mungkin Kita Pernah Melakukannya Tanpa Sadar
Hari Minggu pagi, Anda membeli satu bungkus roti.
“Nanti dimakan sore saja,” pikir Anda.
Namun sore berubah menjadi malam. Besoknya sibuk bekerja. Ketika ingat, roti itu sudah berjamur dan akhirnya masuk ke tempat sampah.
Atau mungkin Anda pernah mengambil makanan terlalu banyak saat prasmanan karena takut kurang.
Ternyata baru setengah piring sudah kenyang.
Sisanya terpaksa dibuang.
Kelihatannya memang sepele.
“Namanya juga sisa makanan.”
Padahal, sebelum makanan itu sampai ke piring kita, ada perjalanan yang sangat panjang.
Ada petani yang bangun sebelum matahari terbit untuk menanamnya. Ada air yang mengairi sawah selama berbulan-bulan. Ada pupuk, tenaga kerja, bahan bakar untuk mengangkut hasil panen, hingga pedagang yang menjualnya.
Semua proses itu membutuhkan waktu, tenaga, dan sumber daya.
Ketika makanan itu kita buang, bukan hanya makanannya yang hilang. Semua usaha di baliknya ikut terbuang.
Dunia Sedang Menghadapi Masalah yang Ironis
Di satu sisi, masih ada jutaan orang yang kesulitan mendapatkan makanan setiap hari.
Di sisi lain, dunia justru membuang makanan dalam jumlah yang sangat besar.
Menurut UNEP Food Waste Index Report 2024, pada tahun 2022 dunia membuang sekitar 1,05 miliar ton makanan. Angka ini setara dengan hampir 19% dari seluruh makanan yang tersedia bagi konsumen. Yang lebih mengejutkan, sekitar 60% dari makanan yang terbuang berasal dari rumah tangga, bukan dari restoran atau supermarket.
Artinya, sebagian besar masalah ini justru terjadi di rumah-rumah seperti rumah kita.
Satu piring nasi yang dibuang mungkin terlihat kecil.
Namun ketika jutaan keluarga melakukan hal yang sama setiap hari, jumlahnya berubah menjadi miliaran ton makanan yang berakhir sia-sia.
Indonesia Pun Mengalami Hal yang Sama
Masalah ini ternyata sangat dekat dengan kita.
Berdasarkan kajian Bappenas, Indonesia menghasilkan sekitar 23–48 juta ton food loss dan food waste setiap tahun. Jumlah tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 15% dari total pasokan pangan nasional.
Bayangkan jika makanan sebanyak itu bisa dimanfaatkan.
Berapa banyak keluarga yang bisa terbantu?
Berapa banyak anak yang bisa mendapatkan makanan bergizi?
Sayangnya, banyak makanan justru berakhir di tempat sampah.
Bukan karena sejak awal tidak layak dimakan.
Tetapi karena kita membeli terlalu banyak, memasak terlalu banyak, lupa menghabiskannya, atau membiarkannya terlalu lama di kulkas.
Ada Satu Hal yang Jarang Kita Sadari…
Banyak orang berpikir, “Kalau makanan dibuang, nanti juga hancur sendiri.”
Memang benar.
Namun tidak sesederhana itu.
Ketika makanan menumpuk di tempat pembuangan akhir, proses pembusukannya menghasilkan gas metana, yaitu salah satu gas rumah kaca yang memiliki kemampuan memerangkap panas jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
Artinya, makanan yang kita buang bukan hanya memenuhi tempat sampah.
Ia juga ikut mempercepat perubahan iklim.
Ironisnya, kita sering merasa bersalah saat membuang plastik.
Namun ketika membuang makanan, kita jarang menyadari bahwa dampaknya juga sama besarnya bagi lingkungan.
Menghargai Makanan Berarti Menghargai Kehidupan
Setiap butir nasi yang ada di piring bukan sekadar makanan.
Di baliknya ada petani yang bekerja di bawah terik matahari.
Ada air yang digunakan untuk mengairi sawah.
Ada tanah yang dirawat agar tetap subur.
Ada orang-orang yang memanen, mengangkut, mengemas, hingga menjualnya.
Maka ketika makanan itu terbuang, yang hilang bukan hanya makanannya.
Kita juga menyia-nyiakan air, energi, waktu, tenaga, dan kerja keras banyak orang.
Jika Tidak Bisa Dimakan, Jangan Selalu Berakhir di Tempat Sampah
Mengurangi food waste sebenarnya tidak sulit.
Mulailah dengan mengambil makanan secukupnya, memasak sesuai kebutuhan, dan menghabiskan apa yang sudah ada di piring.
Jika masih ada sisa makanan, coba pikirkan kembali sebelum membuangnya.
Apakah masih layak dimakan?
Apakah masih bisa diolah menjadi menu lain?
Dan jika makanan tersebut memang sudah benar-benar tidak layak dikonsumsi, bukan berarti satu-satunya pilihan adalah tempat sampah.
Sisa sayuran, kulit buah, daun-daunan, ampas kopi, hingga sisa nasi dapat diolah menjadi kompos.
Kompos akan kembali menjadi nutrisi bagi tanah, membantu menyuburkan tanaman, sekaligus mengurangi jumlah sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Dengan cara sederhana ini, makanan yang sudah tidak bisa kita makan tetap bisa memberi manfaat bagi kehidupan yang lain.
Menjaga lingkungan ternyata tidak selalu dimulai dari aksi besar.
Kadang, perubahan dimulai dari hal yang paling sederhana—menghabiskan makanan di piring kita.
Jika makanan masih layak dimakan, mari kita habiskan.
Jika masih bisa dibagikan, mari kita berbagi.
Dan jika benar-benar sudah tidak layak dikonsumsi, mari kita kembalikan ke alam dengan mengolahnya menjadi kompos.
Karena setiap makanan memiliki nilai. Saat berada di piring, ia memberi energi bagi tubuh kita. Dan ketika sudah tidak bisa dimakan, ia masih bisa memberi kehidupan bagi tanah. Jangan biarkan sesuatu yang masih bermanfaat berakhir sia-sia di tempat sampah.
